Indonesia, sebuah negara yang dianugerahi berlimpah sumber daya alam, berada pada titik kritis dalam pengembangan energinya. Meskipun memiliki pilihan energi terbarukan yang berlimpah seperti geotermal, solar, angin, dan tenaga air, negara ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama batubara. Ketergantungan berat ini tidak hanya berkontribusi terhadap pemanasan global tetapi juga mengabaikan potensi teknologi energi terbarukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menjamin keamanan energi.
Dalam konteks global saat ini, pentingnya energi terbarukan tidak dapat disangkal. Dengan kebutuhan mendesak untuk melawan perubahan iklim, transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan telah menjadi fokus utama kebijakan dan penelitian internasional. Mengadopsi solusi energi terbarukan menawarkan jalan yang layak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi pemanasan global pada ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri seperti yang ditetapkan dalam The Intergovernmental Panel on Climate Change’s (IPCC) Special Report on Global Warming of 1.5°C.
Selain itu, teknologi energi terbarukan menyajikan peluang bagi negara-negara seperti Indonesia untuk mencapai kemandirian dan ketahanan energi. Dengan memanfaatkan potensi energi terbarukannya, Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya pada impor bahan bakar fosil, menstabilkan harga energi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor energi terbarukan. Pengembangan teknologi energi terbarukan juga dapat merangsang inovasi dan kemajuan teknologi, yang berkontribusi terhadap daya saing ekonomi jangka panjang negara ini.
Namun, meskipun ada manfaat potensial ini, pemanfaatan teknologi energi terbarukan di Indonesia masih rendah. Artikel ini bertujuan untuk mengevaluasi keadaan saat ini dari pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pemanfaatan yang rendah, dan mendiskusikan respons dari pemangku kepentingan kunci, terutama PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), sebuah perusahaan pembiayaan infrastruktur milik negara. Dengan menjelaskan masalah ini, artikel ini berharap dapat berkontribusi terhadap diskursus yang sedang berlangsung tentang pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan menginspirasi tindakan menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
Keadaan Saat Ini Energi Terbarukan di Indonesia
Sektor energi Indonesia saat ini didominasi oleh bahan bakar fosil, dengan energi terbarukan hanya berkontribusi sebagian kecil terhadap total bauran energi di Indonesia. Per tahun 2022, energi terbarukan hanya berkontribusi sebesar 11,2% terhadap total campuran energi, jauh di bawah target pemerintah sebesar 23% pada tahun 2025 menurut Indonesia Energy Transition Outlook 2023. Hal ini terjadi meski negara ini memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, yang meliputi energi geotermal, surya, angin, dan hidroelektrik.
IEA telah merilis laporan khusus tentang peta jalan sektor energi untuk mencapai emisi nol bersih di Indonesia – An Energy Sector Roadmap to Net Zero Emissions in Indonesia. Dalam hal teknologi energi terbarukan, energi geotermal adalah yang paling banyak digunakan di Indonesia, memberikan kontribusi 5% terhadap total campuran energi. Ini diikuti oleh energi hidro (3,6%), bioenergi (1,8%), dan energi surya dan angin (0,8% lain-lain) menurut laporan tersebut. Namun, angka-angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kapasitas potensial dari sumber daya ini. Misalnya, Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan hingga 29.000 MW energi geotermal, 75.670 MW energi air, dan 207.898 MW energi surya menurut laporan IESR Making Energy Transition Succeed: A 2023’s Update on The Levelized Cost of Electricity and Levelized Cost of Storage in Indonesia.
Bila dibandingkan dengan rata-rata global, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia cukup rendah. Menurut International Renewable Energy Agency (IRENA), energi terbarukan berkontribusi sebesar 26,2% terhadap campuran energi global pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tertinggal dalam transisi global menuju energi terbarukan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa rendahnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia bukan karena kurangnya sumber daya atau teknologi. Sebaliknya, ini adalah hasil dari berbagai tantangan dan hambatan, termasuk faktor ekonomi, masalah kebijakan dan regulasi, kendala infrastruktur, dan rendahnya kesadaran publik.
Faktor-faktor yang Berkontribusi terhadap Pemanfaatan yang Rendah
Rendahnya pemanfaatan teknologi energi terbarukan di Indonesia dapat diatribusikan kepada berbagai faktor, termasuk faktor ekonomi, tantangan kebijakan dan regulasi, kendala infrastruktur, dan rendahnya kesadaran publik.
- Faktor Ekonomi
Biaya awal yang tinggi untuk proyek energi terbarukan menjadi hambatan signifikan untuk pengembangannya. Meskipun ada manfaat ekonomi jangka panjang dari energi terbarukan, investasi awal yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas energi terbarukan bisa menjadi penghalang. Selain itu, biaya batubara yang rendah, yang melimpah di Indonesia, membuatnya menjadi opsi yang lebih menarik untuk pembangkitan energi dari perspektif ekonomi jangka pendek.
- Tantangan Kebijakan dan Regulasi
Kurangnya kebijakan yangt ambisius dan konsisten untuk mendukung energi terbarukan telah menjadi hambatan utama untuk pengembangannya. Meskipun pemerintah Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk energi terbarukan, implementasi target ini terhambat oleh ketidakpastian regulasi dan perubahan kebijakan yang sering terjadi. Misalnya, kebijakan tarif insentif, yang dirancang untuk memberikan insentif pengembangan energi terbarukan, telah mengalami berbagai revisi, menciptakan ketidakpastian bagi investor.
- Kendala Infrastruktur
Integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan yang ada menimbulkan tantangan teknis yang signifikan. Sebagian besar sumber daya energi terbarukan Indonesia berada di daerah-daerah terpencil dan pedesaan, jauh dari pusat-pusat utama permintaan listrik. Hal ini memerlukan pembangunan saluran transmisi baru dan infrastruktur lainnya, yang bisa mahal dan memakan waktu.
- Kurangnya Kesadaran Publik
Kesadaran publik tentang manfaat energi terbarukan masih rendah di Indonesia. Banyak orang tidak menyadari manfaat lingkungan dan ekonomi dari energi terbarukan, dan ada kurangnya pemahaman tentang kebutuhan mendesak untuk beralih dari bahan bakar fosil.
Mengatasi tantangan ini akan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terkoordinasi. Hal ini melibatkan tidak hanya solusi teknologi dan ekonomi, tetapi juga reformasi kebijakan dan regulasi, pengembangan infrastruktur, dan advokasi publik. Dengan menangani tantangan ini secara langsung, Indonesia dapat membuka potensi energi terbarukannya dan membuka jalan untuk masa depan energi yang lebih berkelanjutan.
Respon dari PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI)
Dalam usaha mencari solusi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi pelopor di Indonesia, telah muncul sebagai kekuatan pendorong dalam mengatasi pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang rendah. Dengan komitmen yang jelas terhadap transisi energi, pendekatan visioner PT SMI mencakup campuran metode pendanaan inovatif, kemitraan strategis, dan rencana ambisius untuk memfasilitasi perjalanan Indonesia menuju masa depan energi yang lebih bersih dan hijau. PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), BUMN di Indonesia, telah berada di garis depan dalam mengatasi rendahnya pemanfaatan teknologi energi terbarukan di negara ini. Mengenali kebutuhan mendesak untuk transisi energi, PT SMI telah aktif terlibat dalam berbagai inisiatif dan strategi untuk mempromosikan penggunaan energi terbarukan.
Sebagai Manajer Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform yang ditunjuk, PT SMI telah diberikan tanggung jawab untuk berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, melakukan studi komprehensif tentang dukungan fiskal, merumuskan konsep untuk mengintegrasikan dukungan fiskal dan fasilitas pengurangan risiko dari sumber lain yang valid, dan melakukan langkah-langkah awal yang diperlukan untuk mengimplementasikan platform negara ini. Kepala Divisi Penasehat PT SMI, Ekha Yudha Pratama, menyatakan bahwa perusahaan sedang berkoordinasi dengan pemangku kepentingan yang relevan, termasuk kementerian dan perusahaan listrik milik negara PLN, dan sedang melakukan studi komprehensif tentang dukungan fiskal yang dibutuhkan untuk transisi energi.
PT SMI berencana untuk menerapkan pendekatan pendanaan campuran untuk membiayai proyek transisi energi dari PLN dan produsen tenaga listrik independen (IPP). Pendekatan ini akan memperoleh dana dari anggaran pemerintah, Otoritas Investasi Indonesia (INA), organisasi filantropi, serta pembiayaan pembangunan multilateral dan bilateral, di antara sumber lainnya. Selain upaya-upaya ini, PT SMI juga telah menjalin kemitraan dengan 17 mitra, termasuk mitra hibah, mitra pendanaan, mitra pengetahuan dan teknis, dan mitra investasi. Kemitraan ini diharapkan dapat memberikan PT SMI dukungan yang dibutuhkan untuk melakukan pensiun dini dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang dimiliki oleh PLN dan oleh IPP.
Untuk pembangkit listrik tenaga batubara PLN, PT SMI mempertimbangkan dua metode: pinjaman program untuk mempercepat pensiun dan meningkatkan campuran energi PLN menuju energi hijau, dan metode divestasi untuk mengurangi beban pada neraca PLN. Untuk pembangkit listrik tenaga batubara IPP, INA akan berinvestasi dalam proyek IPP dalam bentuk akuisisi sementara SMI akan berpartisipasi sebagai co-investor.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Keuangan, telah secara resmi meluncurkan kerangka pendanaan transisi energi, menandai komitmen pemerintah untuk menyediakan dukungan fiskal untuk pendanaan dan pembiayaan transisi energi dalam sektor listrik. Inisiatif ini, bersama dengan peran PT SMI sebagai Manajer Platform Negara ETM, menandai langkah besar menuju peningkatan infrastruktur energi Indonesia dan transisi energi bersih total menuju emisi nol bersih melalui cara yang terjangkau.
Kompetensi inti PT SMI terletak pada dekarbonisasi dan pembiayaan proyek-proyek hijau, yang dapat digunakan dalam menangani perubahan iklim. Mereka telah mengembangkan produk pendanaan inovatif, unik, dan fleksibel untuk menutup celah dan melengkapi pendanaan lainnya. Ini termasuk pinjaman senior, pinjaman subordinate/mezzanine, ekuitas, pembiayaan munisipal, pembiayaan berkelanjutan, dan pembiayaan Syariah.
PT SMI memiliki fokus yang kuat pada pembiayaan proyek hijau, dengan total komitmen sebesar USD 483,8 juta dalam proyek energi terbarukan per Maret 2023. Proyek-proyek ini meliputi pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik panas bumi, pembangkit listrik biomassa, dan pembangkit listrik tenaga angin. Pembiayaan proyek-proyek ini berpotensi untuk menghindari 3.401.878 ton CO2e setiap tahunnya.
Sebagai respon terhadap rendahnya pemanfaatan teknologi energi terbarukan, PT SMI telah merinci upayanya menuju pencapaian emisi nol bersih. Ini mencakup pembiayaan infrastruktur, pembiayaan program, pembiayaan dan investasi pada entitas bisnis, persiapan proyek, SDG Indonesia One & Green Climate Fund, dan Mekanisme Transisi Energi. Mekanisme Transisi Energi mencakup Dana Pengurangan Karbon dan Dana Energi Bersih.
PT SMI juga telah mengakui kebutuhan transisi energi di Indonesia, dimulai dengan pengecualian batubara atau pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (CFPP) yang tidak efisien melalui Platform Negara Mekanisme Transisi Energi. Ini adalah aspek kunci dari strategi transisi energi Indonesia, bertujuan untuk menggeser industri energi dari bahan bakar fosil menuju alternatif nol karbon. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi emisi CO2 yang terkait dengan energi secara signifikan, sehingga mengurangi dampak perubahan iklim.
Selain itu, PT SMI telah menyoroti sumber daya lokal yang belum dimanfaatkan untuk energi terbarukan di Indonesia. Mereka mencatat bahwa kapasitas terpasang energi terbarukan di Indonesia jauh di bawah potensi energi terbarukan berdasarkan sumber daya geotermal, hidro, bioenergi, surya, angin, dan pasang surut. Hal ini menunjukkan peluang yang signifikan untuk ekspansi pemanfaatan energi terbarukan di negara tersebut.
PT SMI sedang aktif merespon rendahnya pemanfaatan teknologi energi terbarukan di Indonesia melalui berbagai inisiatif dan strategi. Ini mencakup pembiayaan proyek hijau, menganjurkan transisi energi, dan menyoroti potensi energi terbarukan yang belum dimanfaatkan di negara ini.
Kesimpulan
Di tengah perubahan iklim global, transisi menuju teknologi energi terbarukan belum pernah sepenting ini. Indonesia, dengan potensi energi terbarukan yang belum dimanfaatkan, berada dalam posisi unik untuk memimpin transisi ini di Asia Tenggara. Namun, keadaan saat ini dari pemanfaatan energi terbarukan di negara ini jauh lebih rendah dari yang bisa dicapai, karena interaksi kompleks tantangan ekonomi, kebijakan, regulasi, dan infrastruktur, serta kurangnya kesadaran publik.
PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) berada di garis depan dalam mengatasi tantangan ini, mengimplementasikan strategi inovatif dan mekanisme pembiayaan untuk mempercepat transisi energi. Pekerjaan mereka adalah bukti dari upaya ambisius yang sedang dilakukan untuk mengatasi hambatan terhadap pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.
Sebagai kesimpulan, kebutuhan untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi energi terbarukan di Indonesia bukan hanya kebutuhan—ini adalah peluang. Peluang bagi Indonesia untuk mendefinisikan ulang lanskap energinya, untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, dan untuk berdiri sebagai mercusuar transisi energi terbarukan di kawasan ini. Dengan upaya bersama dari pemangku kepentingan, termasuk entitas pemerintah seperti PT SMI, Indonesia memiliki potensi untuk tidak hanya mencapai, tetapi juga melebihi tujuan energi terbarukannya, membuka jalan untuk masa depan yang berkelanjutan dan hijau.
Sumber : https://transisienergi.id/menelaah-rendahnya-pemanfaatan-teknologi-energi-terbarukan-di-indonesia/

