Tangerang, 10 Maret 2025 – Toko Cahaya Lancar, sebuah unit usaha yang bergerak dalam sektor penjualan perabotan dan alat-alat rumah tangga yang bertepat pada Jl.Raya Cisauk Legok No.150 Tangerang,Kec.Cisuak,Kota Tanggerang,Provinsi Banten, saat ini tengah menghadapi kendala operasional yang signifikan dalam pengelolaan persediaan barang antar cabangnya.
Peninjauan langsung di lapangan mengungkap adanya ketidakseimbangan yang mencolok, di mana penumpukan stok terjadi di satu lokasi, sementara cabang lain justru mengalami kekurangan barang yang sama. Fenomena ini secara gamblang menunjukkan adanya inefisiensi dan kurangnya koordinasi dalam sistem manajemen stok yang berlaku.
Sebagai langkah awal dari kegiatan kerja praktik, sebuah tim mahasiswa yang berasal dari Program Studi Teknik Informatika dari Universitas Pamulang, melakukan kunjungan ke Toko Cahaya Lancar Pada Tanggal 10 maret 2025. Tim ini beranggotakan Arif Rahman Hakim, Mahfud Al Hayat, dan Riswanto Halim .
Kedatangan mereka bertujuan untuk memperkenalkan diri, memohon izin resmi kepada pemilik toko, dan menjelaskan secara terperinci maksud serta tujuan dari pelaksanaan kerja praktik, yaitu pengembangan sistem manajemen stok barang antar cabang berbasis web.
Selama periode observasi yang seksama, tim mengidentifikasi bahwa meskipun Toko Cahaya Lancar telah dilengkapi dengan sarana teknologi informasi berupa komputer di bagian kasir , serta memiliki staf dengan keterampilan dasar dalam pengoperasian perangkat tersebut , proses pencatatan dan pendistribusian barang masih didominasi oleh metode manual.
Pencatatan stok, yang saat ini masih mengandalkan laporan fisik yang dibuat oleh masing-masing cabang, seringkali mengakibatkan perbedaan data antara catatan sistem dengan jumlah barang yang sesungguhnya tersedia. Konsekuensi dari akurasi data yang rendah ini adalah seringnya terjadi keterlambatan dalam pengiriman barang antar cabang dan ketidakseimbangan stok di berbagai lokasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik dan staf mengonfirmasi masalah tersebut. Koordinasi antar cabang masih mengandalkan komunikasi konvensional seperti telepon, yang tidak efisien dan memakan waktu serta biaya.
Wawancara dengan pemilik dan staf mengonfirmasi masalah tersebut. Koordinasi antar cabang masih mengandalkan komunikasi konvensional seperti telepon, yang tidak efisien dan memakan waktu. Staf kesulitan mencari stok di cabang lain karena pencatatan manual hanya berfokus pada barang keluar. kurangnya informasi stok akurat dan cepat berdampak pada pelayanan pelanggan yang kurang optimal.
Pengembangan sistem ini diharapkan dapat mengoptimalkan operasional, menghemat waktu dan tenaga karyawan, serta meningkatkan kepuasan pelanggan melalui ketersediaan barang yang lebih terjamin.

