Perkembangan teknologi semakin hari semakin luar biasa. Kini, dunia pendidikan pun mulai dipenuhi berbagai inovasi digital, termasuk yang sedang hangat diperbincangkan: kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence).
AI mulai banyak dipakai di sekolah dan platform belajar. Ada aplikasi yang bisa menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa, sistem penilaian otomatis, hingga asisten virtual yang menjawab soal-soal pelajaran. Semua itu tentu membuat proses belajar jadi terasa lebih mudah dan cepat.
Tapi, di tengah semua kecanggihan itu, muncul pertanyaan penting: Apakah guru masih diperlukan?
Teknologi Bisa Bantu, Tapi Tidak Gantikan
Jawabannya: tetap butuh guru.
AI memang punya keunggulan. Ia bisa membantu membuat pembelajaran lebih personal, memberikan feedback instan, dan mengurangi beban administrasi guru. Menurut sejumlah ahli seperti Holmes dan timnya, AI bisa mempercepat penyampaian materi dan menjadikan belajar lebih efektif.
Tapi, pendidikan bukan hanya soal pengetahuan kognitif. Anak-anak juga perlu belajar nilai-nilai, sikap, kerja sama, serta keterampilan fisik dan sosial. Di sinilah peran guru sangat penting.
Sebuah studi dari Utami & Saputra menyebutkan bahwa AI tidak memiliki empati atau kemampuan membaca suasana hati siswa. Maka, kalau semua diserahkan ke mesin, akan hilang sisi kemanusiaan dari proses belajar.
Guru Bukan Sekadar Pengajar
Peran guru jauh lebih luas dari sekadar menyampaikan materi. Mereka hadir untuk membimbing, memberi motivasi, membangun karakter, dan menjadi teladan bagi muridnya. AI tidak bisa menggantikan kepekaan guru dalam melihat siapa yang sedang butuh bantuan, atau siapa yang diam-diam merasa kesulitan. Penelitian oleh Sani menyebutkan bahwa AI sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak, tapi tidak bisa mengambil alih peran utama guru sebagai pembina karakter dan emosi siswa.
Guru juga membawa nilai budaya, lokalitas, dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tiap anak sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh sistem AI, betapapun canggihnya.
Kolaborasi adalah Kunci
Jadi, bukan soal siapa yang lebih hebat guru atau teknologi. Tapi bagaimana keduanya bisa saling melengkapi. AI bisa jadi alat bantu yang luar biasa, sementara guru tetap menjadi pemegang kendali pembelajaran.
Konsep TPACK dari Mishra & Koehler mengajarkan bahwa teknologi akan berguna bila disandingkan dengan strategi mengajar yang baik dan penguasaan materi. Artinya, guru tetap harus jadi pusat pembelajaran, namun terbuka untuk memanfaatkan AI.
Sentuhan Manusia Tak Tergantikan
Suparno pernah menulis bahwa pembelajaran sejati adalah pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan—bukan hanya soal benar atau salah, tapi juga tentang makna dan hubungan antar manusia.
Maka dari itu, meskipun teknologi berkembang pesat, guru tetap punya peran vital. Mereka adalah orang-orang yang bisa menyentuh hati dan membimbing siswa menjadi pribadi yang utuh secara intelektual, emosional, dan sosial.

